MURID KRISRUS
PENGERTIAN
MURID
Pengertian umum dari murid
adalah seorang pelajar. Pelajar adalah orang yang mau belajar, menimba ilmu
pengetahuan dengan tujuan meningkatkan kwalitas diri. Kwalitas yang semakin
baik merupakan cita-cita yang ingin dicapai ketika seseorang mau belajar.
Apabila orang tua mau menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya tidak
bertujuan untuk gagah-gagahan, menunjukkan kemampuan materi atau supaya anaknya
sekedar tamat dan bisa mencari kerja, tatapi tujuan pokok adalah agar anak-anak
itu pintar, berpengetahuan yang dapat meningkatkan kwalitas hidup mereka kelak
dalam banyak aspek.
Dalam pengertian Alkitab juga
hampir sama seperti dalam pengerti umum, hanya saja dalam pengertian Alkitab,
bahwa murid juga adalah seorang pengikut (Follower). Sebagai pengikut, sang
murid bukan saja bertujuan untuk mencari ilmu pengetahuan tapi juga pengabdian
diri. Jadi murid Kristus adalah orang-orang yang mau diajar dan belajar tentang
kebenaran firman Tuhan dan mau mengikut serta mengabdikan diri kepada Dia.
Di dalam alkitab kita bisa
menemukan beberapa contoh tentang murid (pengikut) yang mengabdikan dirinya
kepada gurunya antara lain Musa dengan Yosua (Bil 11:28). Pemilihan Allah
kepada Yosua untuk menggantikan Musa bukanlah secara tiba-tiba. Selama Musa
memimpin bangsa Israel, Yosua telah menjadi abdi yang setia (Kel. 33:11) dan
yang mau belajar dari cara kehidupan dan kepemimpinan Musa. Hal ini dibuktikan
bahwa Yosua sebagai salah satu orang yang dipilih untuk pergi mengintai tanah
Kanaan. Ketika kelompok-kelompok yang diutus kembali dari pengintaian semua
pesimis untuk menghadapi orang Kanaan, hanya Yosua dan Kaleb yang optimis
karena mereka telah menjadi murid yang setia dan yang mau belajar dari Musa
melalui perjalanan mereka (Bilangan 14:6-9).
Demikian juga antara Elia
dengan Elisa, walaupun tidak banyak diceritakan bagaimana proses pemuridan itu
sendiri karena tidak banyak kisah yang menceritakan pelayanan mereka
secara bersama-sama namun dari pernyataan Elisa ketika Elia akan terangkat ke
sorga (2 raja 2) dan juga melihat dari pelayanan Elisa yang juga dahsyat bahkan
kemudian Elisa menjadi pemimpin sekelompok nabi, pastilah ia belajar dari
gurunyaa Elia .
Contoh lain adalah Yohanes
Pembaptis dengan murid-muridnya (Mark 2:18), Yesus dengan 12 murid-Nya dan juga
Paulus dengan muridnya Timotius, Titus, dsb.
TUJUAN PEMURIDAN
A.
Mengajar umat Tuhan dengan pengetahuan firman Allah
Sebagaimana amanat Tuhan Yesus
Kristus, yaitu untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid, disana dikatakan
“..dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang yang telah kuperintahkan
kepadamu….” (Mat.28:20), maka umat Tuhan harus diajar untuk mengerti perintah
atau firman Allah dengan demikian umat Tuhan dapat melakukan firman Allah itu
dengan benar. Karena tidak mungkin mereka melakukan firman Allah dengan benar
kalau mereka tidak mengerti.
Selain menyatakan diri secara
langsung kepada nabi-nabi, Tuhan menyatakan diri-Nya melalui firman yang
tertulis (Alkitab). Dari firman Tuhan, kita mengerti tentang Tuhan Lewat
firman Tuhan bagi kita disingkapkan tentang penciptaan, dosa, kematian,
pengampunan, keselamatan, iman dan pengharapan apa yang kita miliki selama kita
masih di dalam dunia. Lewat firman Tuhan juga yang dalam hubungan-Nya
dengan kita sebagai manusia; Tuhan dalam diri Yesus Kristus menyatakan diri
sebagai Juru Selamat, Gembala, Raja, Sahabat, yang kesemua pernyataan ini
bertujuan agar kita tahu bagaimana memposisikan diri dihadapan Tuhan.
Yesus sendiri dalam
pelayanan-Nya terus mengajar tantang Allah dan karya-Nya. Ia mengajar
murid-muridnya dan umat Israel di bait Allah dan tempat-tempat umum. Dan
sepeninggal Yesus, rasul-rasul melanjutkan misi Tuhan dengan terus mengajar.
Kisah Para Rasul mengatakan bahwa rasul-rasul setiap hari mengajar di Bait
Allah, dan memberitakan Injil ke berbagai penjuru (Kis. 5:42). Rasul
Paulus dalam surat-suratnya sangat menekankan bagaimana pentingnya pengajaran
firman Tuhan. Tanpa mengesampingkan nilai tata ibadah dan karunia-karunia, dia
menekankan bahwa pengajaran firman Tuhan menjadi hal yang sangat mendasar dan
mutlak bagi kehidupan jemaat-jemaat Tuhan (Ef. 6:4; 1 Kor. 14:19; 1 Tim 4:11,
dsb).
Menurut tradisi, orang Israel
yang hidup pada masa Perjanjian lama selalu mengajarkan anak-anak mereka
tentang hukum Taurat selama kira-kira 2 jam setiap hari. Dan pada masa jemaat
mula-mula umat-umat Tuhan juga diajar oleh rasul-rasul setiap hari
(Kis.2:41-47). Sangat kontras dengan cara hidup orang kristen jaman ini. Hal
ini bisa dipahami seiring kemajuan jaman yang semakin sibuk dengan urusan dunia
(jasmani) yang sangat menyita waktu dan perhatian. Kemajuan jaman menuntut
orang tidak lagi mengejar kecukupan primer tetapi kehidupan yang lebih dari
cukup bahkan tak jarang mengejar kekayaan atau kelimpahan secara materi. Namun
meski tidak dapat menghidupi kehidupan seperti jemaat mula-mula, sesungguhnya
umat-umat Tuhan masih dapat dan memang seharusnya membagi waktu untuk terus
belajar firman Tuhan dengan cara membaca dan merenungkan firman Allah dan juga
melalui kehadiran pada pertemuan-pertemuan ibadah.
B.
Menjadikan umat Tuhan dewasa rohani.
Pemuridan juga bertujuan untuk
menjadikan umat Tuhan dewasa rohani. Menjadi dewasa tidak datang secara instan
tetapi membutuhkan proses yang terus menerus dan waktu. Tidak ada jalan pintas
untuk menjadi dewasa. Kedewasaan seseorang akan nampak dari cara berpikir,
ucapan dan tindakan seseorang. Secara jasmani kedewasaan seseorang tidak dapat
diukur dengan tubuh yang besar dan umurnya yang sudah tua, karena ada juga
orang yang sudah tua dan yang badannya besar namun sikap dan perbuatannya
seperti anak-anak. Jadi kedewasaan di ukur dari sikap dan perbutannya. Demikian
juga kedewasaan rohani seseorang tidak dapat diukur dengan lama-nya dia
menjadi seorang kristen melainkan melalui sikap dan perbuatannya. Proses
pendewasaan itulah yang disebut pertumbuhan.
Satu hal yang pasti bahwa pertumbuhan
harus dimulai dari benih. Dari benih inilah bertumbuh menjadi tunas, terus
bertumbuh menjadi pohon dan terus bertumbuh hingga menghasilkan buah.
Pertumbuhan rohani pun harus dimulai dari benih yaitu firman Allah yang terus
bertumbuh di dalam kehidupan orang percaya. Layaknya tumbuh-tumbuhan yang
terus-menerus membutuhkan suply makanan yaitu zat-zat yang terkandung di dalam
tanah, air, oksigen dan sinar matahari untuk membentuk pertumbuhan, demikian
juga umat Tuhan secara terus menerus membutuhkan firman Allah yang menyatu
dengan hidup kita dan dan memberi pertumbuhan (Ef. 4:11-13). Pertumbuhan iman
seorang murid akan terlihat bahwa tahap demi tahap atau dari waktu ke waktu
sikap dan perbuatannya akan semakin baik seiring semakin bertambahnya pengetahuan
akan firman Allah.
Pertumbuhan yang baik tidak
melulu karena faktor benih dan air tapi juga faktor tanah. Dalam perumpamaan
tentang seorang penabur (Luk. 8:4-15) dapat kita pelajari bahwa tumbuhan pada
tanah yang keras dan berbatu-batu tidak akan bertumbuh dengan baik bahkan akan
mati. Sedangkan pada tanah yang baik, tumbuhan akan bertumbuh dengan baik dan
menghasilkan buah. Pada ayat 15 dikatakan “Yang jatuh di tanah yang baik itu
ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang
baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” Mengeluarkan buah artinya berbuat
atau melakukan firman itu. Jadi jelas bahwa pertumbuhan dalam permuridan itu
tidak terlepas dari pembelajaran firman Tuhan dan applikasinya yang
berkesinambungan.
Seperti yang dikatakan
sebelumnya bahwa kedewasaan terlihat dari sikap dan perbuatannya, maka seorang
yang dewasa akan bijaksana dalam mengambil tindakan atau membangun
kehidupannya. Dia mengerti tujuan hidupnya. Orang dewasa rohani akan dapat
memimpin bukan di pandang secara organisasi tapi cara hidup.
Kedewasaan rohani juga terlihat
dari cara seseorang menyikapi segala sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya.
Manis dan pahit, susah dan senang, kaya atau miskin, disikapi dengan bijaksana.
Kalaupun Tuhan mengijinkan sesuatu penderitaan terjadi maka penderitaan itu
tidak akan menjauhkan dia dari persekutuan dengan Tuhan. Kalau Tuhan
mengijinkan dia memiliki berkat materi, itupun tidak dapat menjauhkan dia dari
Tuhan.
C.
Menjadi Serupa Dengan Kristus.
Menjadi serupa dengan Kristus
adalah kehendak Allah atas manusia. Dalam Roma 8:29 “Sebab semua orang yang
dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi
serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung
diantara banyak saudara.” Hal ini dapat terjadi melalui pemuridan, karena dalam
pemuridan terjadi pembaharuan cara berpikir dan pembentukan karakter tahap demi
tahap seiring dengan pengetahuan firman Allah sehingga pada akhirnya seorang
murid akan serupa dengan Kristus. Menjadi seperti Kristus adalah proses yang
panjang. Dalam proses ini terjadi pembentukan karakter, dan pembentukan
karakter hanya bisa terjadi dengan senantiasi mengaplikasikan/mempraktekkan
firman Tuhan dengan disiplin yang tinggi.
Karakter Kristus yang
seharusnya kita teladani sebagai murid adalah seperti yang tertuang dalam
Galatian 5:22-23 sebagai buah Roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Pilipi (Pilipi 2:1-11) Rasul Paulus
mengharapkan karakter ini bertumbuh dalam jemaat di Pilipi. Secara khusus pada
ayat 5 dikatakan : “Hendaklah kamu dalam hidup bersama, menaruh pikiran dan
perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus.”
Kita tidak akan bisa menjadi
seperti Kristus dalam keilahian-Nya namun kita menjadi seperti Kristus dalam
kemanusiaan-Nya yang sempurna. Kita tidak memiliki kuasa seperti Tuhan tetapi
kita memiliki otoritas untuk mengandalkan Kuasa Tuhan dalam hidup kita (Markus
16:17-18). Demikian juga dalam proses pembentukan karakter itu, kita tidak akan
mampu untuk mempraktekkan dengan sempurna firman Allah yang kita terima tanpa
pertolongan Tuhan. Oleh karena itulah kita perlu terus bersekutu dengan
Allah yang telah mengutus Roh-Nya menjadi penolong bagi kita. Dengan
pertolongan Roh Allah pada akhirnya kita bisa menjadi seperti Kristus.
1.
SYARAT MENJADI MURID KRISTUS.
Dalam Lukas 14:26 dikatakan:
Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya,
isterinya, anak-anaknya, sudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan
nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu”
Firman Tuhan ini bukanlah sedang
mau menciptakan konfrontasi atau menebar rasa kebencian diantara anggota
keluarga dalam hal kita mengikut Yesus, tetapi yang dimaksud adalah bahwa kita
harus mengutamakan Yesus diatas segalanya termasuk diatas kepentingan
kekeluargaan. Hal ini ditegaskan dalam Matius 10:37 yang
berkata:”Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak
layak bagiku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih
daripadaKu, ia tidak layak bagikiu.”
Tentu saja kalau kita menghidupi
kasih Tuhan, maka kita juga dituntut untuk mengasihi orang lain apalagi
keluarga kita. Bahkan mengasihi orang lain merupakan tanda yang dituntut dari
seorang murid (Yoh.13:34-35). Namun apabila diperhadapkan dengan satu pilihan
diantara Tuhan dengan keluarga kita atau orang lain, maka kita diharuskan
memilih Yesus walaupun akhirnya harus ada konfrontasi, inilah yang menjadi satu
syarat kelayakan menjadi seorang murid Tuhan.
Kemudian dalam Matius 16:24
dikatakan:” Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau
mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Artinya menjadi murid Kristus bukan perkara mudah atau gampangan seperti
kehidupan kekristenan jaman sekarang ini yang cenderung “semau gue”.
Ada tiga komponen yang
digariskan dalam Matius 16:24 sebagai syarat kelayakan sebagai pengikut (murid)
yaitu “menyangkal diri”, “memikul salib” dan “mengikut”.
Menyangkal Diri.
Menyangkal diri maksudnya tidak
mengandalkan diri dalam segala hal. Mengakui bahwa kita tidak memiliki
hak atas hidup kita, mengakui bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber keselamatan,
pertolongan dan pemeliharaan. Bukan gagah perkasa kita tetapi oleh karena Tuhan.
Penyangkalan diri berarti bahwa
kita tidak bisa kompromi dengan kebenaran diri kita sendiri. Kita tidak bisa
membenarkan tindakan-tindakan kita kalau tidak sesuai dengan firman Allah. Apa
yang kita pikirkan dan lakukan haruslah mengacu pada kehendak Allah dalam
firman-Nya. Prinsip penyangkalan diri dapat kita lihat dalam diri para rasul
seperti rasul Paulus yang dalam surat-suratnya kita bisa melihat pernyataannya
bahwa apa yang dia pikirkan, apa yang dia lakukan semata-mata bukan untuk
dirinya sendiri melainkan untuk Tuhan. Dalam Roma 14:8 dia tuliskan:” Sebab
jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk
Tuhan. Jadi baik hidup dan mati, kita adalah milik Tuhan” (Lih. 2 Kor. 5:15;
Galatia 2:20). Dalam Kis. 20:22-23 dia menyebut dirinya sebagai tawanan
Roh, artinya dia tidak bisa tidak harus mengikuti kemauan Roh itu. Kemanapun
Roh itu menyuruh dia, dan apapun yang dikehendaki Roh itu untuk dilakukan maka
dia merasa wajib melakukannya sekalipun dia harus diperhadapkan ke penjara.
Filipi 1:20-21, Paulus
mengatakan kerinduan dan harapannya yaitu bahwa Kristus dengan nyata dimuliakan
dalam dirinya, baik oleh hidupnya maupun oleh matinya. Dan baginya hidup adalah
Kristus dan mati adalah keuntungan.
Memikul
Salib.
Syarat lain untuk menjadi murid
adalah mau memikul salib (Lukas 14:27). Salib merupakan instrument
hukuman. Pada jaman kerajaan Romawi era Yesus di dunia, hukuman mati diberikan
untuk kesalahan yang dianggap berat yang di buktikan di pengadilan atau yang dinyatakan
oleh beberapa saksi. Tentu saja Tuhan tidak sedang menyuruh kita untuk memikul
salib karena kejahatan kita tetapi yang perlu disalibkan adalah pikiran dan
tindakan atau keinginan duniawi yang bisa menimbulkan kejahatan.
Mengacu pada salib Kristus maka
makna salib adalah pengorbanan diri dan ketaatan. Yesus Kristus disalibkan
bukan karena dosa dan kesalahan yang Dia telah lakukan tetapi Ia disalibkan
untuk menebus manusia dari dosa. Ia mengorbankan diri-Nya supaya orang-orang
yang dikasihi-Nya memperoleh keselamatan.
Seperti pernyataan Yesus
sendiri bahwa Dia datang kedalam dunia dan melakukan segala pekerjaan-Nya
adalah untuk memenuhi kehendak Bapa yaitu keselamatan manusia lewat
pengorbanan-Nya di kayu salib (Yohanes 6:38-39). Bahkan ketika suatu
malam dalam kemanusiaan-Nya menjelang perjalanan salib yang harus dijalani-Nya,
Dia berdoa kepada Bapa supaya Bapa melalukan cawan (penderitaan salib) itu
daripada-Nya tapi Dia katakan “..tapi bukan kehendak-Ku, melainkan
kehendak-Mulah yang jadi”.
Jalan salib adalah juga wujud
ketaatan Yesus kepada Bapa. Dalam Filipi 2:6-8 “yang walaupun dalam rupa Allah,
tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus
dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil
rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai
manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati
di kayu salib”.
Jadi untuk layak menjadi murid
bagi Kristus harus mau menyalibkan keduniawian dan mau taat untuk melakukan
kehendak Allah, meski harus mengalami penderitaan jasmani.
Mengikut Dia.
Kalau dikatakan mengikut itu artinya dengan setia mengikuti langkah
Kristus dan dengan taat melakukan apa yang di firmankan-Nya. Ketika Yesus
mengajak murid-murid yang pertama, Yesus mengatakan “ikutlah Aku” lalu mereka
mengikut Yesus dan meninggalkan jala, perahu, ayah mereka untuk mengikut Yesus
(Matius 4:18-22). Disini tidak ada tawar menawar, tidak ada pertimbangan
untung-rugi, tetapi mereka langsung mengikut Yesus.
Seringkali orang-orang Kristen terhalang mengikut Yesus karena mereka
tidak mau berkomitmen untuk mengutamakan panggilan Tuhan daripada hal-hal yang
lain seperti yang bisa kita lihat sebagai contoh di dalam alkitab.
Suatu waktu dari antara orang-orang yang berkerumun, datanglah
seorang ahli taurat berkata kepada Yesus: “Guru, aku akan mengikuti
Engkau, kemana saja Engkau pergi” Tapi Yesus menjawab : ”Seriga mempunyai
liang dan burung memiliki sarang, tetapi Anak manusia tidak mempunyai tempat
untuk meletakkan kepala-Nya. (Matius 8:19-20). Jawaban Yesus ini merupakan
suatu pernyataan bahwa Dia sebenarnya tidak mendapat tempat utama di hati orang
Farisi ini.
Walaupun dia berkata akan mengikut Yesus, tetapi sesungguhnya Yesus tahu
keberatan hatinya. Mengapa? Karena ia adalah seorang farisi yaitu seorang ahli
Taurat yang miliki reputasi (nama besar) yang tinggi dan juga memiliki otoritas
(kuasa) dalam system agama Yahudi. Yesus memperingatkan dia dalam kegelisahan
hatinya. Satu sisi dia mau mengikut Yesus tapi sisi yang lain dan yang lebih
dominan adalah kehormatan dan kuasa sebagai orang Farisi berat untuk
ditinggalkannya.
Seorang yang lain menunjukkan ketidaksiapannya untuk mengikut Tuhan yaitu
ketika Yesus mengatakan kepada dia “Ikutlah Aku”. Orang itu menjawab,
“Izinkan aku terlebih dahulu menguburkan bapaku” (Lukas 9:59) Tentulah
dia tidak mungkin berada di tempat itu bersama dengan Yesus dan orang-orang
yang berkerumun disitu kalau ayahnya sedang meninggal. Tapi konon ini merupakan
gaya bahasa timur tengah yang berarti dia masih perlu tetap tinggal sampai
ayahnya meninggal.
Yesus kemudian mengatakan kepadanya: ”biarlah orang mati menguburkan
orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah kerejaan Allah
dimana-mana” (Luk 9:10). Dalam hal ini Yesus sedang mengatakan kepada dia
untuk meninggalkan keduniawian dikerjakan oleh orang-orang duniawi;
Artinya kita tidak boleh terperangkap dengan mengijinkan masalah-masalah
duniawi menghalangi prioritas sorgawi.
Orang yang ketika berkata kepada Yesus :” Aku akan mengikut Engkau,
Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan terlebih dahulu dengan keluargaku” (Lukas
9:61). Mari kita lihat jawaban Yesus,”Setiap orang yang siap membajak
tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah.” (Lukas 9:62).
Saya percaya bahwa tidak ada yang salah sebenarnya dengan berpamitan terlebih dahulu,
tapi Tuhan Yesus melihat hati yang masih mendua di dalam orang ini. “Menoleh
kebelakang” artinya masih ada kebimbangan dan pertimbangan.
Jadi untuk mengikut Tuhan dan menjadi seorang murid memang tidak mudah,
ada harga yang harus dibayar yaitu keutamaan Kristus diatas segalanya. Kalau
melihat cara hidup orang kristen umunya pada jaman sekarang, mereka tidak layak
disebut murid Tuhan Yesus dalam perspektif (pandangan) alkitab. Karena
kebanyakan orang kristen jaman sekarang telah menempatkan Yesus menjadi urutan
kesekian diatas kepentingan yang lain.
Dalam konteks kehidupan kita
sekarang ini, kita tidak lagi akan mengikut Yesus secara jasmani seperti ketika
Ia memanggil ke dua belas muridnya dan muridnya mengikut Dia kemana saja Dia
pergi untuk melayani, melainkan kita mengikuti visi dan misinya bagi dunia.
Kepada Simon Petrus dan Andreas Yesus berkata akan menjadikan mereka menjadi
penjala manusia (Mat. 4:19), dan kepada kesebelas murid Dia perintahkah untuk
pergi, menjadikan semua bangsa menjadi murid, membabtis dan mengajar mereka
melakukan perintah Yesus. Perintah Yesus inilah yang harus kita ikuti.
Inilah idealisme sebagai
seorang murid, yaitu berkesinambungan dalam firman Tuhan (Yoh. 8:31),
memberitakan firman, menjala manusia dan membawa kepada Kristus. Sudahkah kita
menjadi murid? Berapa persenkah orang Kristen yang menyebut diri murid
melakukan hal ini? Apakah anda melakukannya?
2. TANGGUNG JAWAB
SEBAGAI MURID KRISTUS
Seorang
Murid Kristus harus dapat menjadi aksi dan menjadi berkat bagi lingkungannya di
manapun dia berada . Seorang Murid Kristus diharapkan dapat menunjukkan
identitas diri sebagai orang Kristen melalui perkataan dan perbuatan yang baik
bagi setiap orang.
Seorang
Murid Kristus bertanggung jawab untuk membuat lingkungannya mengalami damai
sejahtera bukan kekacauan atau keributan, dalam hal ini mereka dapat berfungsi
sebagai garam dan terang dunia (Matius 5:13-16). Seorang murid Kristus layaknya
menjadi Duta yang memberikan representasi akan karakter Kristus di masyarakat dalam
pola hidup sehari-hari.
Lihatlah,
betapa seorang Murid Kristus mempunyai peran pentng dan strategis dalam peran
menjadi garam dan menciptakan terang di tengah dunia.
3. KONSEKUENSI MENJADI MURID KRISTUS
Banyak konsekuensi yang harus dihadapi untuk menjadi
murid Kristus. Beberapa hal perlu dipersiapkan oleh seorang murid Kristus dalam
hidupnya agar dia dapat menjalani kehidupan Kristen menuju tingkatan iman yang
lebih tinggi adalah sebagai berikut :
A. Hubungannya dengan
Kristus
Seorang
murid Kristus tidak usah menjadi serupa dengan orang-orang disekelilingnya,
karena Ia hidup bagi Yesus dan bukan lagi bagi mereka yang menghancurkan
imannya. Inilah arti memiliki hubungan dengan Kristus. Kit berada pada
perjanjian hidup kekal dalam Kristus Yesus. Karena tubuh kita aalah milik
Kristus (baca : Rom 12:1-2).
B. Mengembangkan
Sikap Positif Dalam Hidup
Pengembangan sikap positif dalam hidup dapat
terwujud kalau seorang murid dipimpin oleh Roh Kudus. Orang yang dipimpin oleh
Roh Kudus tidak akan dihantui oleh kekhawatiran , kerisauan , atau kemurungan
yang terus menerus karena ia telah menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan
sekarang segala masalahnya menjadi masalah Tuhan.
C. Memiliki
Disiplin Rohani Yang Baik
Disiplin
Rohani yang perlu dimiliki oleh murid Kristus agar dia dapat hidup dihadapan
Tuhan dan didalam pergulan sehari-hari adalah :
a.
Hidup menurut kemauan Allah
Yaitu Seorang Murid Kristus harus hidup dengan
berpedoman kepada apa yang diinginkan oleh Allah yang telah memanggilnya, Bukan
berbuat semaunya didalam hidupnya.
b.
Bergaul Akrab dengan Firman Tuhan
Yaitu seorang Murid
Kristus harus mendisiplinkan diri untuk mendengarkan firman Tuhan dan mematuhi
apa yang Tuhan katakan serta menjadikannya seperti Kristus didalam kehidupan
sehari-hari. Maka kita akan semakin dekat dalam hubungan relasi dengan Tuhan.
c.
Mempunyai kehidupan doa yang baik
Yaitu Seorang Murid
Kristus sangat perlu berdoa sebanyak mungkin. Karena Doa menjadi Nafas
Kehidupan bagi orang percaya. Seperti halnya Tuhan Yesus yang mempunyai
kehidupan doa yang baik.
d.
Ibadah
Yaitu Seorang Murid
Kristus menyatakan Ibadah sebagai wujud ucapan syukur dan rasa hormatnya kepada
Allah. Ibadah juga sebagai pertemuan berlangsung semacam dialog antara Tuhan dengan
Manusia. Tetapi dari pengertian itu semua , Ibadah merupakan sikap hati dan
Motivasi yang timbul sebagai respons terhadap kasih Allah.
e.
Taat
Yaitu Seorang Murid
Kristus dituntut untuk taat akan perintah Tuhan . Jangan hanya mendengarkan
Firmannya saja , tetapi Murid Kristus harus menerapkan juga kehendak Allah
dengan Taat.